Meraih Berkah Silaturrahim

“ Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis Rasulullah saw itu mengingatkan kita betapa pentingnya aktivitas silaturrahim. Dua manfaat yang dijanjikan Allah – melalui utusan-Nya yang mulia – yaitu bahwa silaturrahim dapat menambah umur dan melapangkan rizki.

Bertambahnya umur bisa bermakna majazi, bahwa yang bertambah adalah kualitas umur, yakni bertambahnya keberkahan dan makna umur. Sebutlah contoh seorang Imam al-Ghazali yang meninggal tahun 505 H/1111 M, dalam umur 55 tahun. Hingga kini, namanya masih tetap hidup. Jasanya dikenang. Kitab-kiabnya dibaca dan dikaji jutaan orang, hingga saat ini. Begitu juga para ulama yang lain. Apalagi Nabi Muhammad saw. Meskipun beliau sudah meninggalkan kita tahun 632 M, tetapi namanya tetap disebut dan didoakan kaum Muslim, setiap detik. Tidak pernah sedetik pun, langit sepi dari doa untuk Nabi saw.

Ada juga ulama yang menafsirkan hadits itu secara hakiki. Maknanya, memang Allah SWT menambahkan jatah umur kepada seorang yang malaksanakan aktivitas silaturrahim. Namun, soal tambah-kurangnya umur seseorang ini adalah masalah ghaib; hanya Allah saja yang tahu. Yang jelas, silaturrahim adalah aktivitas mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Begitu juga dengan kemanfaatan “kelapangan rizki” seperti disebutkan Rasululah saw. Sebagai Muslim kita tentu meyakini kebenaran sabda Nabi kita tersebut. Bagaimana wujud dari kelapangan rizki? Secara logis, silaturrahim erat kaitannya dengan informasi dan kepercayaan (trust) yang sangat penting peranannya dalam dunia kerja dan bisnis.

Akan tetapi, soal rizki adalah masalah ghaib juga. Rizki adalah hak prerogatif Allah. Allah memberikan rizki kepada yang dikehendakinya. Bisa jadi, Allah memberikan kesempitan rizki kepada seseorang, karena kasih sayang-Nya. Sebab, Allah Mahatahu, si hamba tersebut justru akan menjadi semakin rusak akhlaknya jika diberikan rizki yang melimpah. Bisa jadi, Allah memberikan rizki yang melimpah kepada orang kafir dan jahat, sebagai satu bentuk “hukuman”, dimana kelapangan rizki justru menambah-nambah kejahatannya.

Bagi seorang Muslim, soal lapang atau sempit rizki dilihatnya sebagai ujian dari Allah. Di saat lapang, dia tidak lupa diri, dan memanfaatkan rizkinya untuk kebaikan. Di saat sempit, dia sadar, ujian Allah sedang menimpanya. Namun, dia paham, Rasulullah saw memberikan sejumlah kunci untuk membuka pintu rizki, diantaranya dengan cara memanjatkan sejumlah doa dan juga memperbanyak silaturrahim.

Seorang Muslim yang kokoh imannya akan selalu berada dalam kondisi bahagia (sa’adah). Sebab, pandangannya tidak berhenti sampai dunia ini saja. Perspektif hidupnya menembus batas-batas dunia dan materi. Negeri akhirat adalah tujuan dan kehidupan yang sebenarnya. Karena itulah, dia yakin, Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya, sebab Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

Seorang Muslim yakin, bahwa silaturrahim yang dijalankannya adalah ibadah dan pasti akan mendatangkan manfaat sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw. Namun, bagaimana wujud pastinya, dia serahkan kepada Allah. Sebab, dalam kehidupan kita, begitu banyak misteri yang tidak kita pahami. Orang baik, sholeh, rajin bekerja, ditimpa musibah-demi musibah, diberi ujian demi ujian kesulitan hidup. Sementara orang jahat, mengaku sebagai pezina, justru terkadang tampak seolah-olah bahagia, ceria selalu tampil di layar kaca, dimana-mana disanjung dan dipuja sebagai diva. Itu rahasia kehidupan yang tidak selalu bisa dipahami manusia.

Berbasis kepada keimanan kita kepada keadilan dan kasih sayang Allah, tidak sepatutnya kita mendikte Allah dengan kemauan kita. Silaturrahim dan perintah-perintah Allah lain kita jalankan sebagai bukti kesyukuran kita pada-Nya. Kita perlu sadar, kadangkala, Allah memberikan karunia kepada kita dalam bentuk yang tidak kita minta. Kita minta atau berharap mendapatkan rizki dalam bentuk uang tunai. Padahal, bisa jadi, rizki itu diberikan kepada kita dalam bentuk lain, misalnya dalam bentuk kesehatan kita dan keluarga kita.

Jadi, mari kita jalankan salah satu ajaran yang indah ini: menjalin silaturrahim, dengan orang tua, saudara, kerabat, dan para sahabat. Kita yakin, sesuai sabda Nabi saw, silaturrahim pasti membawa berkah dan manfaat dalam hidup kita. Bentuknya apa pun, kita serahkan kepada Allah yang Maha Bijaksana. Wallahu a’lam bil-shawab.

Oleh : Dr Adian Husaini