Harapan Baru untuk Indonesia, Gerakan Religius di Kampus Negeri

Di Agustus 2015, ada ‘pemandangan’ fenomenal terkait dengan aktivitas mahasiswa baru. Setidaknya, ada empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang saat menyambut mahasiswa barunya tampak Islami. Seperti apa ‘pemandangan’ itu dan apa pula yang bisa kita harapkan darinya?

Sungguh Membanggakan

Lihatlah aktivitas di Universitas Negeri Sebelas Maret – Surakarta (UNS)! Pada 29/08/2015, seluruh mahasiswa baru –yang ribuan- menghadiri Grand Opening Asistensi Agama Islam (AAI) di kompleks masjid Nurul Huda UNS.

Saat itu, di antara acaranya, mahasiswa baru menulis Al-Qur’an bersama dengan menggunakan metode follow the line (dalam bahasa Jawa: ngeblat) dari Iqro’ bil Qolam. Tujuannya, pertama, agar mahasiswa bisa menulis dan membaca Al-Qur’an dengan cepat, meskipun mereka belum bisa menulis ataupun membaca Al-Qur’an sama sekali. Kedua, menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk cakap menulis Al-Qur’an. Dengan metode menebalkan garis-garis samar yang ada pada lembaran mushaf, diharapkan mahasiswa lebih mudah mengingatnya.

Untuk apa acara yang didukung sepenuhnya oleh Rektor UNS itu? “Setelah menulis dalam lembaran mushaf, adik-adik (mahasiswa) diberitahu pentingnya membaca dan menulis Al-Qur’an dan bagaimana implementasinya dalam kehidupan,” terang Subhan - Ketua Biro AAI UNS.

Jika mahasiswa UNS diajak agar bisa baca-tulis Al-Qur’an, jelas ini langkah luar biasa. Sebab, Al-Qur’an itu petunjuk hidup bagi orang yang bertakwa. Lebih dari itu, sudah terbukti bahwa dengan panduan Al-Qur’an, Muhammad Saw mampu ‘mengubah’ kaum jahiliyah menjadi umat yang beradab.

Cermatilah kegiatan di Institut Teknologi Bandung (ITB)! Pada 10/08/2015 ITB meresmikan Penerimaan Mahasiswa Baru di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Saat tiba waktu shalat Dhuhur, mahasiswa-mahasiswa itu melaksanakan shalat berjamaah di bagian luar gedung. Di ruang terbuka mereka membentuk shaf rapi dengan masih memakai jas almamater. Cukup menggetarkan karena suasana yang terbangun seperti ketika sedang shalat Id. Subhanallah!

Jika pemandangan seperti itu terus dipertahankan yaitu shalat berjamaah di awal waktu, maka tak hanya membuat bangga orang yang melihatnya, tapi juga bisa memicu optimisme akan kehidupan yang lebih baik. Sebab, berdasar QS Al-‘Ankabuut [29]: 45, ada jaminan bahwa shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan munkar. Bahwa, berdasar QS Al-Baqarah [2]: 45, kita diminta untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.

Perhatikanlah aktivitas di Institut Teknologi Sepuluh November – Surabaya (ITS)! Pada Shubuh 29/08/2015, lebih dari 5.000 jamaah memadati masjid kampus ITS - Manarul Ilmi. Saat itu merupakan peresmian Gerakan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid oleh Rektor ITS, Prof. Joni Hermana.

Peresmian Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah itu juga bertepatan dengan OSPEK mahasiswa baru ITS. "Adanya kegiatan seperti ini di kampus ITS karena saya ingin memberi bekal kecerdasan spiritual kepada mahasiswa baru supaya kalau lulus nanti menjadi sarjana yang bijak, intelek dan bukan budak teknologi semata," kata Rektor ITS. Kala itu, jamaah meluber hingga ke lapangan parkir masjid seperti di saat shalat Id. Allahu-Akbar!

Seksamailah aktivitas di IPB! Mahasiswa baru diajak dalam Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah di Masjid. Terkait itu, Prof. Yonny –Rektor IPB- mengaku terkesan dengan antusiasme mahasiswa baru dan juga jamaah masjid yang begitu luar biasa. Dia-pun berharap semoga dengan ini dapat menurunkan ridha dan berkah dari Allah kepada IPB dan bangsa Indonesia.

Rasanya, tak sedikit yang mengapresiasi ‘pemandangan’ di setidaknya empat PTN itu. Ada harapan bahwa, pertama, suasana Islami itu terus terpelihara selama para mahasiswa itu menyelesaikan kuliahnya dan bahkan sampai seterusnya. Kedua, dengan performa yang Islami itu, para mahasiswa lalu diharapkan aktif menjadi agen perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Bahwa mahasiswa pernah menjadi agen perubahan yang positif, sejarah dengan mudah bisa memberikan buktinya. Lihatlah pada 1928, 1945, 1966, dan 1998. Di “Tahun-tahun penting Indonesia” itu, penggerak utamanya adalah mahasiswa.

Untuk menambah contoh, lihatlah pula tentang awal mula kemunculan ‘Fenomena Jilbab’ di Indonesia. Dulu, sebelum tahun 1980, tak terlalu mudah menjumpai wanita-wanita Muslim yang berjilbab.

Keadaan itu berubah mulai di sekitar awal 1980-an. Lewat Masjid Kampus sebagai ladang amalnya, mahasiswa Muslim berdakwah terutama kepada sesama mahasiswa. Sementara, bagi kampus yang belum punya masjid, mahasiswa Muslim membentuk Lembaga Dakwah Kampus sebagai sarana berdakwahnya.  

Di saat-saat itulah kesadaran berjilbab dari Mahasiswi-aktivis secara bersemangat dikampanyekan. Aktivitas itu dimulai dan dimotori oleh mahasiswa-aktivis dari “kampus-kampus non-agama” seperti ITB, UGM, UI, Unair, dan lain-lain.

Lewat Masjid Kampus atau Lembaga Dakwah Kampus, mereka gulirkan ghirah keagamaan termasuk untuk “Sadar Jilbab”. Artinya, harus kita akui, bahwa jika sekarang hampir semua Muslimah sadar akan kewajibannya untuk berjilbab, maka itu tak lepas dari kontribusi mahasiswa-aktivis yang berusaha mewujudkan semua aturan Allah dalam keseharian.    

Kembali ke fenomena di empat PTN di atas, tak salah jika banyak yang berharap bahwa hal itu dapat terus dipertahankan dan bahkan sampai kelak saat mereka mengabdi di tengah-tengah masyarakat. Memang, dengan ‘pemandangan’ di acara penerimaan mahasiswa baru itu, ada kesan kuat yang ditimbulkannya. Bahwa, terkesan kuat para mahasiswa baru itu “Pinter dan shalih” atau “Cerdas dan alim”. Tentu saja, ini sangat membanggakan. (Inpasonline.com).